Published on

events

EKRUTmeets 6: Pilih kerja di startup atau corporate?

Maria Yuniar

dc338f21-bde1-476a-a4e0-d879ded28c27.jpeg

Ekrut menggelar diskusi bertema, "Startup or Corporate, which one is right for me?" pada Rabu, 27 Juli 2018 di Kolega Coworking Space, Jakarta Selatan. Diskusi EKRUTmeets #6 ini membahas karakteristik perusahaan rintisan atau startup dan korporasi (corporate) dari sisi human resources development (HRD). 

Berikut ini petikan diskusi bersama Learning and Development Manager Go-Jek, Dimas Sayyid Mahfuz dan Inclusion and Diversity Lead Accenture Nia Sarinastiti.

 

Apa sih perbedaan startup dan corporate?

Sayyid:
Kami, startup, tidak ada standard operating procedure (SOP). HRD memang tidak membuat SOP yang clear. Di beberapa perusahaan, biasanya ada SOP yang jelas soal jam masuk kerja. We expect everyone in the company for being responsible. Jadi ini bagaimana teman-teman bisa navigate diri mereka sendiri. Pertama, harus jadi kritis kalau mesti melakukan sesuatu. Misalnya, engineer biasanya menghadapi isu di apps 24 jam. Kalau ada masalah tengah malam, tidak bisa pakai aturan jam kerja nine to five.

Nia:
Kami melihat pengalaman Accenture. Corporate pasti mapan, karena sudah long-term. Sekitar lima tahun lalu baru ada startup. Tapi bisa saja corporate itu startup. Di corporate, ada SOP. Walaupun itu mengalami perubahan karena teknologi. Untuk menyesuaikan proses kerja.

 

Bagaimana rasanya bekerja di corporate, dan startup?

Nia:
Kerja itu pertama tentang respect for others. Jika tidak menghargai orang lain, maka tidak bisa bekerja sama. Misalnya saja, ada manager yang sering teriak-teriak dan bikin orang lain ga nyaman. Nah, harus ada divisi untuk menangani situasi semacam itu. Kalau tidak ada, masalah itu tidak akan selesai. Masalah ini otomatis berpengaruh. Orang yang akan bertahan adalah yang memperhatikan orang lain di dalam kantor.

Sayyid:
Gimana rasanya kerja di Go-Jek? Excited! Go-Jek itu sudah meng-cover sembilan juta kilometer. Bisa bolak-balik Jakarta-bulan delapan kali! Atau kayak martabak setinggi Monas. Gue bangga sekaligus anxious. Banyak perubahan yang dikasih Go-Jek buat Indonesia. Fast paced banget, tapi sekaligus khawatir ga bisa kasih impact buat temen di laur sana. Gue pernah ke Lampung, jam tiga pagi lihat ada driver di SPBU demi ngumpulin uang sekolah anak.
 

Sejauh mana perbedaan karier serta benefit di startup dan corporate?

Nia:
Saya sudah 30 tahun bekerja, part-time dan fulltime. Berdasarkan pengalaman, benefitnya beda. Komitmennya juga beda. Di corporate biasanya ada basic pay dan performance pay. Ada tunjangan hari raya (THR). Ada juga benefit lain, misalnya cicilan mobil untuk level manajer ke atas. Ada vacation pay dan traning untuk persiapan jadi leader. Kami diminta untuk mengembangkan diri. Jadi luas sekali. Bukan hanya income, tapi benefit.

Sayyid:
Kami melihat benefitnya berupa kebebasan waktu dalam bekerja. Berikutnya, kenapa suka di Go-Jek? Karena benefit dalam hal kesempatan belajar seluas-luasnya. Selama ini, learning diasosiasikan dengan training. Di Go-Jek bisa dilakukan sehari-hari. Ada yang dulu UI/UX, sekarang jadi product manager. Selanjutnya, kami melihat di Go-Jek, kami bisa memberikan dampak bagi masyarakat.

Di kantor, kami semua harus being responsible to our jobs. Kantor provides gym, tempat main games arcade, tempat nonton juga. Kami ada nonton bareng. Kenapa kantor buat fasilitas itu? Biar kalau stres, bisa main. Kalau ngantuk, bisa tidur. Kalau kurang fit, bisa ke gym.

 

Bagaimana cara membangun budaya kerja yang baik?

Sayyid:
Di Go-Jek ada tiga value, yaitu speed, innovation, dan social impact. Yang tidak betah, pasti keluar sendirinya. Kalau betah, ya lama kerja di situ. Setiap pekan, ada sesi on-boarding. Ada sekitar 50 karyawan baru. Ada perasaan yang berbeda. Disadari atau tidak, kita sebagai makhluk sosial, pasti terpengaruh orang lain. Sederhananya, kayak pacaran. Behavior pasti berubah.

Yang penting, pertama, soal leadership. Berikutnya, kami bukan brainwashing, tapi aligning. Karena, setiap orang punya nilai dan budaya masing-masing. Yang penting, nyaman. 

Nia:
Setiap dua pekan, ada 20 sampai 30 orang yang masuk. Ada first time orientation. Ada mentornya juga, untuk membangun dia sebagai individu. Jadi harus ada brother dan sister, untuk shoulder to cry on. Di Accenture, ada new employer orientation selama dua hari.

Nah, begitu kurang lebih suasana bekerja di startup dan corporate. Apakah kamu sekarang punya gambaran lebih luas tentang keduanya?

Tags

Share

Artikel Terkait

Mengenal_margin_dalam_dunia_bisnis_dan_panduan_cara_menghitungnya.jpg

startup

Mengenal margin dalam dunia bisnis dan panduan cara menghitungnya

Ningtyas Dewanasari Kinasih

17 January 2022
5 min read
Model_bisnis_D2C_Kenali_pengertian__keunggulan-kelemahannya__strategi__dan_contohnya.jpg

startup

Model bisnis D2C: Kenali pengertian, keunggulan, kelemahan, strategi, dan contohnya

Sylvia Rheny

17 January 2022
5 min read
H1.jpg

startup

Venture Capitalist? Berikut Jenis Pendanaan dan Posisinya

Felixitas Yolanda

17 January 2022
5 min read

Terpopuler Bulan Ini

01

10 Contoh deskripsi diri sendiri yang profesional dan menarik HRD

Maria Tri Handayani

23 September 2021
6 min read
02

Tips menyampaikan kata-kata perpisahan kerja yang berkesan

Maria Tri Handayani

23 September 2021
5 min read
03

6 Cara membalas email panggilan interview dan contohnya

Maria Tri Handayani

23 September 2021
6 min read
04

12 Jenis strategi pemasaran yang paling efektif beserta contohnya

Tsalis Annisa

09 November 2021
5 min read
05

Jawaban interview "ceritakan tentang diri Anda” yang tepat

Maria Tri Handayani

01 December 2021
3 min read